Sabtu, 27 Oktober 2012

Hikmah Sumpah Pemuda 1928

Hikmah Sumpah Pemuda 1928


Pada 28 Oktober 1928 sumpah pemuda untuk pertama kalinya didengungkan. Hal tersebut merupakan suatu pengakuan dari pemuda dan pemudi Indonesia yang mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Pada saat itu, Negara Indonesia belum berdiri, masih berupa cita-cita di benak para pemuda dan pemudi Indonesia yang ingin membebaskan dirinya dari tangan penjajah. Dalam acara tersebut untuk pertama kalinya WR Soepratman memperkenalkan lagu “Indonesia Raya”. Lagu yang pernah dilarang oleh pemerintah Kolonial Hindia Belanda pada zaman itu kini menjadi lagu wajib yang selalu dikumandangkan dalam upacara-upacara resmi kenegaraan.

Bulan Oktober pada sisi yang lain juga dikenal sebagai bulan bahasa. Di bulan Oktober banyak orang menyelenggarakan lomba baca puisi yang salah satu materinya diambil dari puisi Chairil Anwar, penyair kenamaan Indonesia pada zamannya. Puisi Chairil Anwar yang sering dilombakan dan dibaca oleh anak-anak SD itu antara lain berjudul “Doa” yang ditulis pada tahun 1943.

Lantas siapa Chairil Anwar? Kritikus HB Jassin memosisikan Chairil Anwar sebagai tokoh penyair angkatan 1945, dan juga sebagai pembaharu dalam bidang tulis-menulis puisi setelah Amir Hamzah yang dikenal sebagai tokoh pujangga baru. Jika puisi-puisi yang ditulis oleh Amir Hamzah masih terasa aroma pantunnya, dalam penulisan puisi yang dikerjakan oleh Chairil Anwar aroma tersebut tidak lagi tercium.

Dengan adanya sumpah pemuda 1928 sungguh merupakan karunia tak terkira yang dilimpahkan Allah SWT. Kepada bangsa dan Negara Indonesia. Apa sebab? Dengan adanya sumpah tersebut kita punya bahasa persatuan, yakni bahasa Indonesia. Sebelum Negara Indonesia berdiri, para sastrawan Indonesia pada zamannya sudah menulis karya sastra dalam bahasa Indonesia, seperti yang dilakukan oleh Sanusi Pane atau Amir Hamzah. Stelah merdeka, apalagi. Selain Chairil Anwar kita juga mengenal Asrul Sani, Sitor Situmorang, dan sejumlah sastrawan lainnya. Oleh karena itu, mari kita bersyuur kepada Allah SWT. Atas anugerah dan karunia-Nya yang tak terkira ini.

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Facebook